Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN ANAK. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Februari 2013
22 Tips Mendidik Anak Menurut Islam
1) Jangan pukul anak dari lutut keatas
2) Jangan gunakan tangan/anggota tubuh kita utk memukul anak dengan tangan dan jangan sesekali mena
... mpar anak pakai tangan kita. nanti anak jadi bertambah degil dan nakal dan tak boleh control
3) Rotan/pukul anak di telapak kakinya . Secara saintifiknya ada kaitan dengan refleksologi dan merangsang ke bahagian otak
...Sabda Rasulullah s.a.w.
“Berguraulah dengan anak kamu kala usianya satu hingga tujuh tahun. Berseronok dengan mereka, bergurau hingga naik atas belakang pun tak apa. Jika suka geletek, kejar atau usik anak asalkan hubungan rapat. Lepas tujuh hingga 14 tahun kita didik dan ajar, kalau salah pukullah dia (sebagai pengajaran)”
4) Mulakanlah hidup anak anda dengan nama panggilan yang baik. Nama panggilan yang kurang baik akan menyebabkan anak anda malu dan merasa rendah diri. (Dalam Islam sendiri nama panggilan yang baik adalah digalakkan).
5) Berikan anak anda pelukkan setiap hari (Kajian menunjukkan anak yang dipeluk setiap hari akan mempunyai kekuatan IQ yg lebih kuat daripada anak yang jarang dipeluk)
6) Pandanglah anak anda dengan pandangan kasih sayang (Pandangan ini akan membuatkan anak anda lebih yakin diri apabila berhadapan dengan persekitaran)
7) Berikan peneguhan setiap kali anak anda berbuat kebaikan (Berilah pujian, pelukkan, ciuman, hadiah ataupun sekurang-kurangnya senyuman untuk setiap kebaikan yang dilakukannya).
8) Janganlah mengharapkan anak anda yang belum matang itu melakukan sesuatu perbuatan baik secara berterusan, mereka hanya kanak-kanak yang sedang berkembang. Perkembangan mereka buatkan mereka ingin mengalami setiap perkaratermasuklah berbuat silap.
9) Apabila anda berhadapan dengan masalah kerja dan keluarga,pilihlah keluarga (Seorang penulis menyatakan anak-anak terus membesar. Masa itu terus berlalu dan tak akan kembali).
10) Di dalam membesarkan dan mendidik anak-anak, janganlah tuan/puan mengeluh. Keluhan akan membuatkan anak-anak merasakan diri mereka beban.
11) Dengarlah cerita anak anda, cerita itu tak akan dapat anda dengari lagi pada masa akan datang. Tunggu giliran anda untuk bercakap (Ini akan mengajar anak anda tentang giliran untuk bercakap)
12) Tenangkan anak anda setiap kali mereka memerlukannya.
13) Tunjukkan kepada anak anda bagaimana cara untuk menenangkan diri. Mereka akan menirunya.
14) Buatkan sedikit persediaan untuk anak-anak menyambut harijadinya. Sediakanlah hadiah harijadi yang unik walaupun harganya murah. Keunikan akan membuatkan anak anda belajar menghargai. (Anak2 yg dtg daripada persekitaran yang menghargai akan belajar menghargai orang lain).
15) Kemungkinan anak kita menerima pengajaran bukan pada kali pertama belajar. Mereka mungkin memerlukan kita mengajar mereka lebih daripada sekali.
16) Luangkanlah masa bersama anak anda diluar rumah, peganglah tangan anak-anak apabila anda berjalan dengan mereka. Mereka tentu akan merasa kepentingan kehadiran mereka dalam kehidupan anda suami isteri.
17) Dengarlah mimpi ngeri anak-anak anda. Mimpi ngeri mereka adalah begitu real dalam dunia mereka.
18) Hargailah permainan kesayangan anak anda. Mereka juga dalam masa yang sama akan menghargai barang-barang kesayangan anda. Elakkan daripada membuang barang kesayangan mereka walaupun sudah rosak. Mintalah kebenaran mereka sebelum berbuat demikian.
19) Janganlah membiarkan anak-anak anda tidur tanpa ciuman selamat malam,
20) Terimalah yang kadangkala anda bukanlah ibubapa yang sempurna. Ini akan mengurangkan stress menjadi ibu bapa.
21) Jangan selalu membawa bebanan kerja pejabat ke rumah. Anak-anak akan belajar bahawa kerja pejabat selalunya lebih penting daripada keluarga.
22) Anak menangis untuk melegakan keresahan mereka tetapi kadangkala cuma untuk sound effect sahaja. Bagaimanapun dengarilah mereka, dua puluh tahun dari sekarang anda pula yang akan menangis apabila rumah mula terasa sunyi. Anak-anak anda mula sibuk mendengar tangisan anak mereka sendiri.
“Anak- Anak ibarat kain putih. Ibu bapa lah yang mencorakkannya menjadi yahudi, nasrani atau majusi”
Dipersilakan SHARE ♥
Kamis, 31 Januari 2013
Antisipasi Menghindari Generasi Tidak Shalat
Anak-anak
sampai umur tujuh tahun biasanya lebih terpengaruh oleh kebiasaan dan
didikan orang tuanya. Namun setelah mulai masuk sekolah, ia akan terbina
oleh gurunya dan terpengaruh oleh teman-temannya di sekolah. Kalau
pembinaan guru-gurunya baik, dan pengaruh teman-temannya pun baik, maka
insya Allah jiwa anak terbina dengan baik. Sebaliknya, kalau pembinaan
dari guru-gurunya hanya sekadarnya (seperti keadaan rata-rata sekarang)
dan pengaruh teman-temannya buruk, maka si anak terbentuk (terformat)
dalam pola yang kurang baik.
Di saat seperti itu, pembinaan
ataupun kebiasaan kedua orang tuanya yang ditanamkan kepada si anak
selama 7 tahun itu lambat laun terkikis, lama-lama bisa habis. Sedang
pembinaan dari orang tua belum tentu berlanjut, atau setidak-tidaknya
tak ada peningkatan. Karena orang tua merasa anaknya sudah disekolahkan,
pasti telah dibina oleh guru-gurunya di sekolah. Wal hal guru-guru
belum tentu membina si anak dengan baik/ intensip. Apalagi kebanyakan
pendidikan selama ini kurikulumnya hanya sekadar menyampaikan pelajaran
yang sasarannya hanya membekali otak dengan ilmu, teori, dan itupun
sifatnya lebih menjurus kepada materi keduniaan. Sedikit sekali yang
menyangkut pembinaan rohani, akhlaq, jiwa, hati, keimanan, keikhlasan
atau akhlaq secara keseluruhan. Sehingga aspek ukhrawi justru
terabaikan.
Secara Islami, anak-anak wajib dibina fitrahnya
agar menjadi Muslim yang shalih. Maka ketika anak umur 7 tahun, orang
tuanya disuruh oleh Nabi ` untuk memerintah anak-anaknya shalat. Nabi `
bersabda: "Perintahkanlah anak itu (mendirikan) shalat ketika ia telah
sampai (umur) tujuh tahun. Dan jika telah sampai sepuluh tahun maka
pukullah dia" (kalau meninggalkan shalat dengan sengaja). (Hadits
Riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim, shahih atas syarat Muslim).
Dalam Hadits lain Rasulullah ` bersabda: "Perintahkanlah anak-anakmu
sekalian shalat sedang mereka (berumur) tujuh tahun, dan pukullah mereka
(kalau meninggalkan shalat dengan sengaja) ketika (berumur) sepuluh
tahun, dan pisahkanlah mereka tempat tidurnya" (pada umur 10 tahun itu).
(Hadits Shahih Riwayat Ahmad (2/187) dan Abu Daud (495).
Karena tidak memahami sikap dan jiwa anak, seringkali orang tua
melengahkan, bahkan "memaafkan" alias membiarkan anak-anaknya
meninggalkan atau melalaikan shalat. Dengan anggapan toh mereka masih
anak-anak. Padahal, dalam jiwa anak itu sudah tumbuh rasa dan sikap
"meremehkan" kewajiban shalat, akibat didikan guru sekolah yang
rata-rata tidak menghiraukan shalat tidaknya anak-anak murid.
Para penyelenggara pendidikan hendaknya membimbing anak-anak sejak SD
kelas satu untuk shalat dan diselenggarakan shalat berjama'ah. Anak
kelas satu dan dua yang kini biasa dipulangkan pukul 10-11, hendaknya
dialihkan waktunya sampai anak-anak digerakkan untuk shalat berjama'ah
dhuhur di masjid atau mushalla terdekat. Syukur-syukur sekolahan itu
sendiri memiliki tempat untuk shalat berjama'ah.
Apabila
masalah ini tidak dipecahkan bersama-sama antara pihak orang tua dan
sekolah maka sulit bagi ummat Islam untuk menurunkan generasi yang taat
shalat. Dan itu merupakan ancaman yang benar-benar sudah menghadang di
depan mata kita. Tinggal bagaimana tekad kita untuk memecahkannya, demi
mengamalkan perintah Rasulullah `
Senin, 14 Januari 2013
Buah Hati Dalam Jaminan Allah swt
Tidak sedikit orang tua yang keliru mengejewantahkan rasa cinta dan kasih sayangnya sehingga justru melahirkan sikap manja, pengecut dan sederet sikap tercela lainnya pada anak. Hingga membuahkan petaka dan penyesalan di penghujungnya. Lalu bagaimanakah wujud cinta kita yang benar kepada anak?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah teladan agung yang telah memberikan contoh kepada kita. Beliau adalah orang yang begitu besar rasa kasih sayangnya terhadap anak-anak. Sejarah hidup Beliau telah menorehkan kumpulan petunjuk, bagaimana mewujudkan rasa cinta kepada anak, bagaimana mencurahkan cinta kepada anak secara seimbang dan proporsional. Hingga kita dan sang buah hati kesayangan menuai kebahagiaan di dunia dan akhirat, biidznillah. Itulah wujud cinta yang hakiki, sehingga akan membuahkan kesuksesan sejati.
Untuk itu, agar kecintaan dan perasaan kasih-sayang kita kepada anak seimbang dan benar sesuai dengan kaidah dan pedoman yang Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan, maka kita harus membangunnya, sebagaimana kaidah-kaidah berikut.
ALLAH DAN RASULNYA HARUS DIDAHULUKAN
Orang tua mencintai anak ada batasannya. Begitu juga anak mencintai bapak-ibunya ada batasannya. Yakni, seorang mukmin wajib mendahulukan cinta kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam dari segala macam kecintaan. Sehingga, cinta anak tidak boleh mengalahkan cinta Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seorang muslim harus mengutamakan perintah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, tunduk terhadap ajaran agama serta menjauhi segala larangan syari’at.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu , Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ, لاَ يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى أكُوْنَ أحَبَّ إلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أجْمَعِيْنَ.
Dan demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya. Tidaklah salah seorang diantara kalian beriman, hingga aku lebih dicintai daripada bapaknya, anaknya dan semua umat manusia. [HR Bukhari dan Muslim].
Imam Tirmidzi meriwayatkan kisah Salman bin Amr bin Al Ahwas Radhiyallahu 'anhu. Salman menuturkan,”Bapakku telah bercerita kepadaku, bahwa ia ikut hadir pada haji Wada’ bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah memuji dan menyanjung Allah Azza wa Jalla serta memberi peringatan dan nasihat. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,’Janganlah orang tua melakukan kejahatan kepada anak, dan begitu juga anak jangan berbuat kejahatan kepada orang tua’.”
Pernah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah Azza wa Jalla.
وَاعْلَمُوا أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرُُ عَظِيمُُ
Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan. (Al Anfal:28), ketika melihat Hasan bin Ali terpeleset sementara ia seorang bocah kecil, dan ketika itu Rasulullah sedang berkhutbah lalu turun untuk menggendongnya.[Tirmidzi, 3774; An Nasa’i, 3/192; dari hadits Buraidah tentang Hasan dan Husain. Tirmidzi berkata,”Ini hadits hasan gharib.”]
JANGAN BAKHIL, BODOH DAN MENJADI ORANG PENGECUT KARENA ANAK Dari Khaulah binti Hukaim, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar dari rumah sedang menggendong salah seorang cucunya, maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
والله إنَّكُمْ لَتُبَخِّلُوْنَ وَتُجَبِّنُوْنَ وَتُجَهِّلُوْنَ وَ إنَّكُمْ لَمِنْ رَيْحَانِ الله.
Dan demi Allah, sesungguhnya kalian membuat bakhil, membuat pengecut dan membuat bodoh (orang tua). Dan kalian laksana bunga raihan karunia dari Allah.[Riwayat Imam Ahmad, 2/409 dan Tirmidzi, 1910]
Dari Hakim dari Al Aswad bin Khalaf dan Thabrani dari Khaulah binti Hukaim berkata, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memegang tangan Al Hasan, lalu Beliau menciumnya seraya Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
إنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مَخْزَنَةٌ.
Sesungguhnya anak itu membuat bakhil, pengecut, bodoh dan menyusahkan (orang tua).[Riwayat Imam Ahmad, 2/409 dan Tirmidzi, 1910]
Ada beberapa komentar ulama tentang makna hadits di atas. Zamakhsyary berkata,”Anak menjatuhkan orang tua kepada sifat bakhil dalam masalah harta benda dengan alasan masa depan anak. Orang tua menjadi bodoh karena sibuk mengurus anak hingga lalai mencari ilmu. Orang tua menjadi pengecut hingga takut terbunuh, khawatir nanti anaknya terlantar. Dan orang tua dibuat sedih karena berbagai masalah dan problem yang timbul dari anak. Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam “Kalian laksana bunga raihan karunia dari Allah”, karena orang tua mencium dan memeluk anak, bagaikan mencium bunga raihan yang ditumbuhkan Allah.” [Manhaj Tarbawiyyah Nubuwah Lithafal, 198]
Dan obat dari semua sifat tercela tersebut, baik bakhil, pengecut dan bodoh, adalah dengan berpegang teguh kepada manhaj Islam, yaitu manhaj yang telah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan kepada para sahabatnya, pendidikan yang dibangun di atas kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ketaatan secara total.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, ”Sesungguhnya saya dalam keadaan susah”. (Kemudian) Beliau menyuruh untuk menemui salah seorang isterinya, ia berkata,”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, tidak ada sesuatu dalam rumahku, kecuali air”. Lalu Beliau menyuruh untuk menemui isteri yang lain, dan ia mengatakan hal yang sama. Tetapi semua juga mengatakan seperti itu. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa bisa menyambut tamu, Allah Azza wa Jalla akan merahmatinya.” Kemudian ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang bernama Abu Thalhah berkata, ”Saya, wahai Rasulullah,” Maka ia mengajak tamu ke rumahnya, dan Abu Thalhah berkata kepada isterinya,”Apakah engkau punya makanan?” Isterinya menjawab,”Tidak, kecuali makanan untuk anak-anak.” Ia berkata, ”Hiburlah dan tidurkan mereka. Dan bila tamu kita datang, maka tampakkan bahwa kita punya makanan. Dan bila tamu kita sedang makan, maka bangkitlah ke arah lampu pura-pura ingin membenahi, lalu matikanlah lampu itu.” Isterinya pun mengerjakan perintah itu. Setelah tamu tersebut makan, maka Abu Thalhah semalam bersama isterinya tidur menahan lapar. Lalu pada pagi hari ia datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Beliau bersabda, ”Sungguh, Allah kagum atau tertawa terhadap tindakan fulan dan fulanah, maka turunlah firman Allah.” [HR Bukhari Muslim]
وَيُوْسِرُو نَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَا صَةٌ
Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)
Dalam riwayat lain Nabi bersabda.
قَدْ عَجِب الله مِنْ صَنِيْعِكُمَابِضَيْفِكُمَا
Allah sangat kagum terhadap sikap kalian berdua terhadap tamu kalian.
Inilah obat penyakit bakhil yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat. Maka semestinya kita meniru dan mengikuti jejak mereka, karena mereka adalah sebaik-baik panutan dalam pendidikan yang benar.
Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata, ”Suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memerintahkan kami agar bersedekah. Dan ketika itu, aku sedang memiliki harta yang sangat banyak. Maka aku berkata,’Hari ini aku akan mampu mengungguli Abu Bakar’. Lalu aku membawa separuh hartaku untuk disedekahkan. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya,”Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Aku menjawab,”Aku tinggalkan untuk keluargaku semisalnya”. Lalu Abu Bakar datang membawa semua kekayaannya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya,”Wahai, Abu Bakar. Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Ia menjawab,”Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya.” Maka aku (Umar) berkata,”Aku tidak akan bisa mengunggulimu selamanya.” [Riwayat Tirmidzi, 3675; Hakim dalam Mustadrak, 1/414 dan dia berkata: Shahih]
Inilah perlombaan dalam kedermawanan, cinta sedekah dan lebih mengutamakan orang lain. Maka ajarilah anak-anak kita di atas ajaran kebaikan, dan janganlah menjadikan cinta kepada anak membuat kita mengalahkan cinta Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan segala sesuatu yang ada di permukaan bumi sebagai perhiasan bagi kehidupan dunia, termasuk di dalamnya adalah harta dan anak-anak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran:14].
Anak merupakan karunia dan hibah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua dan sekaligus perhiasan dunia, serta belahan jiwa yang berjalan di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan. [Al Kahfi:46].
Dan diantara bentuk perhiasan dunia adalah bangga dengan banyaknya anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُُ وَلَهْوُُ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرُُ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرُُ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. [Al Hadid:20].
Kamis, 22 November 2012
DAMPAK SIFAT ORANGTUA PADA JIWA ANAK
| Child |
Orang
juga bilang kalau aku egois. Karena aku tak pernah belajar untuk
berbagi. Setahu aku, milikku hanyalah milikku. Dan orang lain harus
berjuang sendiri. Ketika mereka ingin juga memiliki hal itu. Begitulah
yang aku pelajari dari orang tuaku.
Aku sangat mudah berpikir
negatif, selalu dan selalu. Karena aku belajar dari orang tua yang
mudah mengumbar keluhan. Gampang atau susah, mereka selalu mengeluhkan
keadaan. Dan kini, inilah aku yang tidak bisa mengambil poin positif
terhadap apapun yang datang kepadaku.
Aku adalah pribadi yang
sangat tak percaya diri. Dalam rumah kami, sama sekali tak ada pujian.
Yang ada adalah selalu hadirnya berbagai kesalahan.
Terhadap apapun yang aku lakukan.
Dan baik dan burukku tetap harus selalu jadi gunjingan. Aku bahkan sampai tak tahu apakah iya aku masih punya kelebihan?
Aku kini seorang penakut. Aku belajar dari ayah ibuku yang selalu ragu
dan berkecil hati. Aku takut mengambil resiko, karena yang aku tahu
resiko itu dapat membunuhku. Akupun jadi pribadi peragu, karena aku tak
pernah tahu bagaimana harus mengambil keputusan. Yang aku mengerti
selama ini aku hidup dalam perintah orang tuaku tentang boleh dan
tidaknya yang aku lakukan. Kini aku telah tumbuh dewasa.
Aku
kini menjadi pemarah. Aku belajar dari ayah dan ibuku yang pemarah.
Suara mereka lantang saat marah, berharap bisa mengalahkan orang yang
mereka benci. Akupun akhirnya tahu kalau teriakan adalah pelampiasan
yang paling bagus saat kita emosi. Saat mereka marah, mereka memaki.
Lalu akupun tahu bahwa ketika marah kita harus memaki. Tak perduli sopan
atau tidak, tapi itulah yang aku ketahui.
Bebaskan jiwaku
dengan Tauhid, Hanya Allah SWT yang terbesar karena dia Al Malik, mampu
merubah diriku dan jangan henti berjuang dan memohon pertolongan-Nya.
Jiwa mengharap redho Allah, dengan ketinggian pengenalan dari keyakinan,dan hikmah.
Jiwa mencari perhatian dari Allah SWT adalah jiwa yang terbebaskan,
lepas,tanpa terhalang nafsu, kekikiran, ketamakan. Tidak ada motivasi
selain Allah memberi yg terbaik kepada-Nya, Yakinlah Dia yang maha tahu
sehebat-hebatnya cara membahagiakan kita didunia apalagi diakhirat.
Bebaskan Jiwamu, Anak kita, dan Mereka. Cukuplah Allah SWT. Allah Maha
Besar.
-TimUstadz-
Sumber : Yusuf Mansur Network
Dan baik dan burukku tetap harus selalu jadi gunjingan. Aku bahkan sampai tak tahu apakah iya aku masih punya kelebihan?
Aku kini seorang penakut. Aku belajar dari ayah ibuku yang selalu ragu dan berkecil hati. Aku takut mengambil resiko, karena yang aku tahu resiko itu dapat membunuhku. Akupun jadi pribadi peragu, karena aku tak pernah tahu bagaimana harus mengambil keputusan. Yang aku mengerti selama ini aku hidup dalam perintah orang tuaku tentang boleh dan tidaknya yang aku lakukan. Kini aku telah tumbuh dewasa.
Aku kini menjadi pemarah. Aku belajar dari ayah dan ibuku yang pemarah. Suara mereka lantang saat marah, berharap bisa mengalahkan orang yang mereka benci. Akupun akhirnya tahu kalau teriakan adalah pelampiasan yang paling bagus saat kita emosi. Saat mereka marah, mereka memaki. Lalu akupun tahu bahwa ketika marah kita harus memaki. Tak perduli sopan atau tidak, tapi itulah yang aku ketahui.
Bebaskan jiwaku dengan Tauhid, Hanya Allah SWT yang terbesar karena dia Al Malik, mampu merubah diriku dan jangan henti berjuang dan memohon pertolongan-Nya.
Jiwa mengharap redho Allah, dengan ketinggian pengenalan dari keyakinan,dan hikmah.
Jiwa mencari perhatian dari Allah SWT adalah jiwa yang terbebaskan, lepas,tanpa terhalang nafsu, kekikiran, ketamakan. Tidak ada motivasi selain Allah memberi yg terbaik kepada-Nya, Yakinlah Dia yang maha tahu sehebat-hebatnya cara membahagiakan kita didunia apalagi diakhirat. Bebaskan Jiwamu, Anak kita, dan Mereka. Cukuplah Allah SWT. Allah Maha Besar.
-TimUstadz-
Rabu, 18 Januari 2012
Anak Belajar Dari Kehidupan Sehari - harinya
| my children, Aditya |
Ada sebuah puisi karya Dorothy Law Nolte yang maknanya sangat dalam untuk mendidik anak kita, dimana mereka nanti menjadi sesuatu yang akan kita tanamkan sejak bayi.
Juduk Aslinya " Children Learn What They Live "
Yaitu berisi
* Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia akan belajar memaki
* Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia akan belajar berkelahi
* Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia akan belajar rendah diri
* Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, anak akan belajar menyesali diri
* Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia akan belajar menahan diri
* Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia akan belajar menjadi percaya diri
* Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia akan belajar menghargai
* Jika anak dibesarkan dengan sebaik - baiknya perlakuan, dia akan belajar keadilan
* Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia akan belajar menaruh kepercayaan
* Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia akan belajar menyenangi dirinya
* Jika anak dibesarkan dengan cinta, kasih sayang dan persahabatan, dia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupannya
Kehidupan akan menjadi sumber inspirasi anak dalam tumbuhkembangnya menuju dewasa, jadi jangan sampai salah dalam mendidik putra putri kita menjadi anak yang sholeh dan sholihah
Temukan koleksi Jilbab terbaru dengan harga grosir DI SINI
Langganan:
Postingan (Atom)



