 |
| Ini Motivasi Masyarakat Barat Menjadi Muslim |
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari banyak wawancara yang dilakukan
televisi Amerika, Eropa maupun Timur Tengah terhadap mereka yang masuk
Islam (mualaf) atau video-video blog yang banyak menjelaskan motivasi
para
new converters ini masuk Islam, menggambarkan konfigurasi latar belakang yang beragam.
Pertama, karena kehidupan mereka yang sebelumnya sekuler, tidak
terarah, tidak punya tujuan, hidup hanya money, music and fun. Pola
hidup itu menciptakan kegersangan dan kegelisahan jiwa. Mereka merasakan
kekacauan hidup, tidak seperti pada orang-orang Muslim yang mereka
kenal.
Dalam hingar bingar dunia modern dan fasilitas materi yang melimpah
banyak dari mereka yang merasakan kehampaan dan ketidakbahagiaan.
Ketika menemukan Islam dari membaca Alquran, dari buku atau kehidupan
teman Muslimnya yang sehari-harinya taat beragama, dengan mudah saja
mereka masuk Islam.
Kedua, merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak
pernah dirasakannya dalam agama sebelumnya . Dalam Islam mereka
merasakan hubungan dengan Tuhan itu langsung dan dekat.
Demikian juga yang dirasakan oleh Idris Taufik, mantan pastur
Katolik di London, ketika diwawancara televisi Al-Jazirah. Mantan pastur
ini melihat dan merasakan ketenangan batin dalam Islam yang tidak
pernah dirasakan sebelumnya ketika ia menjadi pastur di London. Ia
masuk Islam setelah melancong ke Mesir.
Ia kaget melihat orang-orang Islam tidak seperti yang diberitakan di
televisi-televisi Barat. Ia mengaku, sebelumnya hanya mengetahui Islam
dari media. Ia sering meneteskan air mata ketika menyaksikan kaum
Muslim shalat dan kini ia merasakan kebahagiaan setelah menjadi Muslim
di London.
Ketiga, menemukan kebenaran yang dicarinya. Beberapa mualaf mengakui
konsep-konsep ajaran Islam lebih rasional atau lebih masuk akal
seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, kebangkitan
(resurrection) dan penghapusan dosa (salvation).
Keempat, banyak kaum perempuan Amerika Muslim berkesimpulan ternyata
Islam sangat melindungi dan menghargai perempuan. Dengan kata lain,
perempuan dalam Islam dimuliakan dan posisinya sangat dihormati.
Walaupun mereka tidak setuju dengan poligami, mereka melihat posisi
perempuan sangat dihormati dalam Islam daripada dalam peradaban Barat
modern.
Seorang mualaf perempuan Amerika bernama Tania, merasa hidupnya
kacau dan tidak terarah jutsru dalam kebebasannya di Amerika. Ia bisa
melakukan apa saja yang dia mau untuk kesenangan, tapi ia rasakan malah
merugikan dan merendahkan perempuan.
Setelah mempelajari Islam, awalnya merasa minder. Setelah tahu bagaimana Islam memperlakukan perempuan, ia malah berkata
“women in Islam is so honored. This is a nice religion not for people like me!” katanya. Dia masuk Islam setelah mempelajarinya beberapa bulan dari teman Muslimnya.
Perkembangan Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif
karena mereka terbiasa berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika,
pemilihan agama dilakukan secara bebas dan independen. Banyak orang tua
mendukung anaknya menjadi Muslim selama itu adalah pilihan bebasnya dan
independen.
Mereka mudah saja masuk Islam ketika menemukan kebenaran disitu.
Angela Collin menjadi Muslim dengan dukungan kedua orang tua. Ketika
diwawancarai televisi NBC, orang tuanya justru merasa bangga karena
Angela adalah seorang
independent person.
Nancy seorang remaja 15 tahun, masuk Islam setelah bergaul dekat
temannya keluarga Pakistan dan keluarganya tidak mempermasalahkan
walaupun telah lama hidup dalam tradisi Kristen.
Penulis:
Steven Indra Wibowo
Penggiat dakwah dan Pendiri Mualaf Center Indonesia